Jumat, 03 Januari 2014

Pengalaman Semasa SD Hingga Masa Kuliah



Nama saya Masita Devi, tapi kalian bisa memangilku Sinta. Saya mulai mengenyam bangku pendidikan saat saya berusia enam tahun. Saya bersekolah di SDN 16 Bucinri, tepatnya di Kmp. Bucinri Kel. Mappasaile Kec. Pangkajene Kab. Pangkep, Sulawasi Selatan. Saat di Sekolah dasar saat memiliki empat orang sahabat ebut saja mereka, Ika, Nati, Hikmah, dan Anti, kami sering menghabiskan waktu bersama-sama. Pengalaman yang tak terlupakan saat di sekolah dasar ketika rok saya sobek gara-gara menjat pagar. Hmmm, sunggu pengalaman yang sangat memalukan, tapi tak bisa terlupakan pastinya.
Begini ceritanya, saat itu sedang ada rapat kenaikan kelas, tak ada guru yang masuk mengajar, tapi kami pun tak kunjung di pulangkan. Melihat keadaan kelas yang ricuh dan semua teman-teman yang lain sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing, akhirnya, saya dan keempat sahabat saya memutuskan untuk pergi ke kantin Ibu Dewi yang terletak di samping sekolah. Tapi bukan hal mudah kami dapat sampai kesana, karena  berhubung penjaga sekolah kami galak dan tidak segan-segan menyeret kami ke ruang guru jika kami tertangkap ingin meninggalkan sekolah pada jam pelajaran, meskipun saat itu sedang rapat, kami terpaksa mengambil jalan pintas. Jalan yang selalu anak-anak lain lalui saat ingin meninggalkan sekolah dengan diam-diam, yaitu pagar belakang sekolah, yang dapat memebawa kita ke tempat warung Bu Dewi berada.
Kami berjalan menuju kesana dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan guru, penjaga sekolah, ataupun teman-teman yang lain. Sesampainya di sana tanpa pikir panjang, Ika, Nati, Hikmah, dan Anti naik secara bergiliran, dan mereka dapat keseberang dengan mulus tanpa adanya rintangan. Tiba giliran saya, saya merasa takut dan sedikit deg-degan, karena untuk yang pertama kalinya saya memanjat pagar sekolah. Lama saya berpikir, sampai akhirnya teman-teman merasa bosan dan menyuruh saya untuk segera naik.saya pun memberanikan diri untuk naik, dan berharap semoga dapat melalui pagar tersebut dengan  mulus, seperti yang dilakukan keempat sahabat saya. Tapi.., tapi ternyata saya salah saat ingin melompat keseberang, tiba-tiba rok yang saya gunakan tersangkut di pagar  sekolah. Semua terdiam termasuk teman-teman saya yang sedari tadi terus berusaha untuk meyakinkan saya bahwa tidak akan terjadi apa-apa jika saya melewati pagar itu.
Saat itu rasa takut menghinggap di benakku, takut apa yang akan omelan orang tua yang pasti akan menyambutku di rumah saat melihat rok ku yang sobek, atau bahkan aku takut akan dimarahi guru, rasanya ingin menangis saja saat itu, tak tahu harus berbuat dan berakata apa. Teman-teman pun juga begitu, mereka tiba-tiba diam seribu bahasa. Tak beraapaa lama Ibu Dewi datang menghampiri kami dan langsung menolongko yang masih berada di atas pagar, tak tahu harus berbuat apa.  Di melepaskan bagian rok ku yang tersangkut dipagar itu. Dan membantuku ku turun dari sana. Sesampainya di kantin Ibu Dewi, dia menyuruhku masuk kedalam rumahnya dan meminta teman-teman ku untuk menjaga kaantinnya sementara ia akan menjahit rok ku yang sobek.
Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika seandainya Ibu Dewi tak ada disana. Sunggu pengalaman yang sangat menakutkan bagiku saat itu…

Setelah lulus dari sekolah dasar aku melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Pangkajene, menjadi salah satu  murid di sekolah ini merupaakann kebangga tersendiri buat ku, maklum saja, kata orang sekolah ini merupakan salah satu sekolah terbaik di Pangkep. Namun, masuk ke sekolah tersebut bukanlah sesutu yang mudah untuk ku lalui, liburan semester setelah kelulusan ku di sekolah dasar menjadi liburan yang anak-anak lain sedang menikmati liburan mereka, aku harus rela jungkir-balik belajar demi masuk ke sekolah yang aku incar selama ini. Dan alhamdulillah keinganan ku pun tercapai, di kelas satu saya berhasil masuk ke kelas VII G, dan yang tak ku duga lagi ternyata saya bisa sekelas lagi dengan Nati, Yahya, dan Makmur, teman ku waktu di sekolah dasar dulu.
Meskipun di cap sebagai kelas bawah, tapi itu tidak memudarkan semangat ku untuuk terus belajar, malah aku tambah bersungguh-sungguh belajar agar nanti saat kenaikan kelas saya bisa berada di kelas A. benar saja usahaku selama ini tidak sia-sia, meskipun tidak menempati kelas A, tapi setidaknya aku bisa duduk di kelas C dan itu membuat ku bangga. Tidak begitu banyak kenangan di masa-masa ini yang masih melekat di kepalaku saat ini. Pengalaman yang tak bisa ku lupakan sampai saat ini, ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMP, saat itu saya merupakan salah murid di kelas IX A.
Saat itu saya dan teman-teman mengunjungi salah satu tempat wisata yang ada  di daerah Bone-Bone. Orang-orang menyebut tempat itu dengan nama jembatan cinta, saya pun tidak taau kenapa tempat itu dinamakan jembatan cinta. Kami kesana dengan mengendarai sepeda motor, karena jarak tempat itu lumayan jauh. Disana kami menikmati suasana sore yang begitu indah, ingi sekali rasanya menyaksikan matahari yang akan terbenam, namun hal tersebut harus kami urunkan karena jika menunggu matahari terbenam, kami akan sampai di rumah kemalaman.
Akhirnya kami pun pulang meski masih ingin tinggal dan menyaksikan matahiri terbenam, tak sadar ternyata di jalan sedang ada rasia bagi pengendara motor yang tidak menggunakan helm, alhasil saya dan teman-teman saya juga ikut terjaring, karena tak seorang pun dari kami yang menggunakan helm. Ketakutan langsung menghujani kami semua, tak tahu harus berbuat apa. Pak Polisi terus saja menasehati dan memarahi kami, katanya “kalian ini masih kecil belum boleh mengendarai sepeda motor, kalian pasti tidak punya sim kan..??”. kami semua hanya menggangguk karena ketakutan. Setelah puas memerahi kami Pak Polisi itu pun pergi. Kami merasa lega, karena Polisi tersebut tidak meminta apa pun sebagai denda pelanggaran yang kami lakukan. Pengalaman pertama tertangkap Polisis dan mudah-mudahan itu menjadi yang terakhir.


Lulus dari SMP, saya melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Pangkajene, tak jauh-jauh dari sekolah ku yang sebelumnya, letak SMAN 1 Pangkajene hanya berbataasan tembok dengan SMP ku yang dulu. Dapat melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Pangkajene ini, saya merasa sangat bangga, seperti sebelumnya, sekolah saya yang sebelumnya, SMAN 1 Pangkajene adalah salah satu SMA terbaik di Pangkep. Masuk menjadi salah satu murid di SMA ini pun tak mudah, saya harus melewati berbagai tes mulai dari tes wawancara, mengaji, dan tes tertulis.
Pengalaman yang tak dapat dilupakan ketika SMA saat saya kelas XI SMA, tepatnya di kelas XII IPA 1, saat itu setelah ujian untuk semester pertama berakhir sekolah mengadakan PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni) antar kelas, kami semua sangat-sangat antusias dalam acara ini, kami pun membuat baju untuk acara ini, dan itu juga sebagai wujud dari kekompakan kami.
Ada banyak lomba yang diperlombakan dalam PORSENI ini, mulai dari atletik sampai acara seni, misalnya saja lari, tarik tambang, bola volly, sepak takraw, futsal, baca puisi, membuat kaligrafi, debat dan masih banyak lagi lomba-lomba lain. Saat itu saya hanya masuk ke dalam tiga cabang olahraga saja yaitu basket, volly dan tarik tambang. Saking antusiasnya tak pernah sekalipun teman-teman tak berada dilapangan ataau ditempat lomba saat kelas kami yang mendapat giliran untuk bertanding. Di setiap kesempatan kami selalu membuat heboh lapanngan pertandingan dengan semua yel-yel yang sering membuat pendukung lawan merasa risih bahkan tak segan-segan melempar tatapan tak suka kepada kami. Tapi, itu semua tak kami hiraukan, malah kami akan tambah menjadi jika seandainya ada suporter lawan yang tak suka dengan tingkah kami.
Benar saja, saat pengumuman siapa yang mendapat juara umum untuk PORSENI kali ini, kelas sayalah yang memperolehnya, saat nama XI IPA 1 terucap dari bibir kepala sekolah saat upacara berlangsung, kami semua sontak berteriak dengan  kerasnya, sampai-sampai semua senior (anak kelas tiga), melirik ke arah kami dengan pandangan tidak suka, jengkel, dan bahkan juga marah. Tapi itu semua tak kami hiraukan, seperti kata pepatah : anjing menggonggong. Kafilah berlalu. Itulah yang saat itu kami lakukan, saat orang lain tak senang melihat apa yang kami peroleh, inulah saatnya kami benar-benar menunjukkan bahwa kamilah anak-anak XI IPA 1 yang terbaik.

  
Sama seperti yang lain saya pun bercita-cita melanjutkan sekolah kejenjang yang lebih tinggi lagi, yaitu melanjutkan kuliah kesalah satu Universitas yang ada di Makassar. Sebenarnya saya mempunyai impian untuk berkuliah di Universitas Hasanuddin dan mengambil jurusan ilmu gizi disana, yang nantinya saya bisa bekerja dibagian kesehatan seperti apa yang saya cita-citakan jauh-jauh hari sebelumnya, tapi apa yang saya cita-citakan tak sejalan dengan takdir, karena ketika pengumuman SBNPTN saya tidak lulus di sana, malah saya lulus di Universitas Negeri Makassar. Sesuai apa yang diinginkan kedua orang tua saya agar saya menjadi seorang guru. Di sini saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa Bahasa dan Sastra.
Pengalaman yang tak terlupakan saat saya masuk kuliah yaitu saat jurusan saya mengadakan acara Parade Bahasa Nasional, dan saya juga turut membantu dalam pelaksanaan acara ini, sebagai LO. Mengapa saya mengatakan bahwa saat itu adalah pengalaman yang tak terlupakan, karena dalam acara tersebut saya bisa bertemu dengan orang-orang dari seluruh Indonesia. Karena acara ini merupakan acara Nasional yang dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas yang ada di Indonesia. Misalnya saja dari Lampung, Aceh, Medan, dan masih banyak lagi.
Dalam acara ini juga kami banyak mengunjungi temapat-tempat wisata, seperti Taman Makam Pahlawan Sultan Hasanuddin, Benteng Somba Opu, Fort Rotterdam, Monumen Mandala, dan Pantai Losari. Hal ini membuat saya merasa sangat bahagia karena selain bisa berkenalan dengan orang-orang dari luar kota, saya juga bisa mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di Makassar yang sebagian dari tempat tersebut belump pernah saya kunjungi.
Selain itu kami juga terun ke jalan untuk membagi-bagikan bunga, gantungan kunci dan pink yang menggambarkan kegiatan yang kami galang. Serta mengkampanyekan pentingnya bagi kita orang-orang Indonesia untuk melestarikan bahasa Indonesia yang merupakan ciri khas bangsa kita. Dan hal ini mendapatkan tanggapan yang sangat positif dari semua orang. Mesipun kami sempat membuat jalan menjadi macet karena kami menutup sebagian jalan depan Phinisi untuk kampanye ini.
Dan hal paling penting dalam acara ini, kami juga menggelar Seminar yang juga merupakan salah satu rangkaian acara dari Parade Bahasa ini. Dan beruntungnya lagi saya bisa melihat langsung orang yang juga turut berperan penting dalam perkembangan budaya di Indonesia, yaitu Sujiwo Tejo, yang merupakan budayawan Indonesia. Meskipun tak sempat berjabat tangan dengannya tapi paling tidak saya sudah bisa melihat dia dari dekat.. J
Itulah sedikit dari sekian banyak pengalaman-pengalaman saya, yang dapat saya bagi kepada teman-teman. Terimakasih sudah mau membaca.. J



Sekian dan Terima Kasih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar