Nama saya
Masita Devi, tapi kalian bisa memangilku Sinta. Saya mulai mengenyam bangku
pendidikan saat saya berusia enam tahun. Saya bersekolah di SDN 16 Bucinri,
tepatnya di Kmp. Bucinri Kel. Mappasaile Kec. Pangkajene Kab. Pangkep, Sulawasi
Selatan. Saat di Sekolah dasar saat memiliki empat orang sahabat ebut saja
mereka, Ika, Nati, Hikmah, dan Anti, kami sering menghabiskan waktu
bersama-sama. Pengalaman yang tak terlupakan saat di sekolah dasar ketika rok
saya sobek gara-gara menjat pagar. Hmmm, sunggu pengalaman yang sangat
memalukan, tapi tak bisa terlupakan pastinya.
Begini
ceritanya, saat itu sedang ada rapat kenaikan kelas, tak ada guru yang masuk
mengajar, tapi kami pun tak kunjung di pulangkan. Melihat keadaan kelas yang
ricuh dan semua teman-teman yang lain sedang sibuk dengan pekerjaan mereka
masing-masing, akhirnya, saya dan keempat sahabat saya memutuskan untuk pergi
ke kantin Ibu Dewi yang terletak di samping sekolah. Tapi bukan hal mudah kami
dapat sampai kesana, karena berhubung
penjaga sekolah kami galak dan tidak segan-segan menyeret kami ke ruang guru
jika kami tertangkap ingin meninggalkan sekolah pada jam pelajaran, meskipun
saat itu sedang rapat, kami terpaksa mengambil jalan pintas. Jalan yang selalu
anak-anak lain lalui saat ingin meninggalkan sekolah dengan diam-diam, yaitu
pagar belakang sekolah, yang dapat memebawa kita ke tempat warung Bu Dewi
berada.
Kami
berjalan menuju kesana dengan mengendap-endap agar tidak ketahuan guru, penjaga
sekolah, ataupun teman-teman yang lain. Sesampainya di sana tanpa pikir
panjang, Ika, Nati, Hikmah, dan Anti naik secara bergiliran, dan mereka dapat
keseberang dengan mulus tanpa adanya rintangan. Tiba giliran saya, saya merasa
takut dan sedikit deg-degan, karena untuk yang pertama kalinya saya memanjat
pagar sekolah. Lama saya berpikir, sampai akhirnya teman-teman merasa bosan dan
menyuruh saya untuk segera naik.saya pun memberanikan diri untuk naik, dan
berharap semoga dapat melalui pagar tersebut dengan mulus, seperti yang dilakukan keempat sahabat
saya. Tapi.., tapi ternyata saya salah saat ingin melompat keseberang,
tiba-tiba rok yang saya gunakan tersangkut di pagar sekolah. Semua terdiam termasuk teman-teman
saya yang sedari tadi terus berusaha untuk meyakinkan saya bahwa tidak akan
terjadi apa-apa jika saya melewati pagar itu.
Saat itu
rasa takut menghinggap di benakku, takut apa yang akan omelan orang tua yang
pasti akan menyambutku di rumah saat melihat rok ku yang sobek, atau bahkan aku
takut akan dimarahi guru, rasanya ingin menangis saja saat itu, tak tahu harus
berbuat dan berakata apa. Teman-teman pun juga begitu, mereka tiba-tiba diam
seribu bahasa. Tak beraapaa lama Ibu Dewi datang menghampiri kami dan langsung
menolongko yang masih berada di atas pagar, tak tahu harus berbuat apa. Di melepaskan bagian rok ku yang tersangkut
dipagar itu. Dan membantuku ku turun dari sana. Sesampainya di kantin Ibu Dewi,
dia menyuruhku masuk kedalam rumahnya dan meminta teman-teman ku untuk menjaga
kaantinnya sementara ia akan menjahit rok ku yang sobek.
Aku tak
tahu apa yang akan terjadi jika seandainya Ibu Dewi tak ada disana. Sunggu
pengalaman yang sangat menakutkan bagiku saat itu…
Setelah
lulus dari sekolah dasar aku melanjutkan sekolah ke SMPN 1 Pangkajene, menjadi
salah satu murid di sekolah ini
merupaakann kebangga tersendiri buat ku, maklum saja, kata orang sekolah ini
merupakan salah satu sekolah terbaik di Pangkep. Namun, masuk ke sekolah
tersebut bukanlah sesutu yang mudah untuk ku lalui, liburan semester setelah
kelulusan ku di sekolah dasar menjadi liburan yang anak-anak lain sedang
menikmati liburan mereka, aku harus rela jungkir-balik belajar demi masuk ke
sekolah yang aku incar selama ini. Dan alhamdulillah keinganan ku pun tercapai,
di kelas satu saya berhasil masuk ke kelas VII G, dan yang tak ku duga lagi
ternyata saya bisa sekelas lagi dengan Nati, Yahya, dan Makmur, teman ku waktu
di sekolah dasar dulu.
Meskipun di
cap sebagai kelas bawah, tapi itu tidak memudarkan semangat ku untuuk terus
belajar, malah aku tambah bersungguh-sungguh belajar agar nanti saat kenaikan
kelas saya bisa berada di kelas A. benar saja usahaku selama ini tidak sia-sia,
meskipun tidak menempati kelas A, tapi setidaknya aku bisa duduk di kelas C dan
itu membuat ku bangga. Tidak begitu banyak kenangan di masa-masa ini yang masih
melekat di kepalaku saat ini. Pengalaman yang tak bisa ku lupakan sampai saat
ini, ketika saya duduk di bangku kelas tiga SMP, saat itu saya merupakan salah
murid di kelas IX A.
Saat itu
saya dan teman-teman mengunjungi salah satu tempat wisata yang ada di daerah Bone-Bone. Orang-orang menyebut
tempat itu dengan nama jembatan cinta, saya pun tidak taau kenapa tempat itu
dinamakan jembatan cinta. Kami kesana dengan mengendarai sepeda motor, karena
jarak tempat itu lumayan jauh. Disana kami menikmati suasana sore yang begitu
indah, ingi sekali rasanya menyaksikan matahari yang akan terbenam, namun hal
tersebut harus kami urunkan karena jika menunggu matahari terbenam, kami akan
sampai di rumah kemalaman.
Akhirnya
kami pun pulang meski masih ingin tinggal dan menyaksikan matahiri terbenam,
tak sadar ternyata di jalan sedang ada rasia bagi pengendara motor yang tidak
menggunakan helm, alhasil saya dan teman-teman saya juga ikut terjaring, karena
tak seorang pun dari kami yang menggunakan helm. Ketakutan langsung menghujani
kami semua, tak tahu harus berbuat apa. Pak Polisi terus saja menasehati dan
memarahi kami, katanya “kalian ini masih kecil belum boleh mengendarai sepeda
motor, kalian pasti tidak punya sim kan..??”. kami semua hanya menggangguk
karena ketakutan. Setelah puas memerahi kami Pak Polisi itu pun pergi. Kami
merasa lega, karena Polisi tersebut tidak meminta apa pun sebagai denda
pelanggaran yang kami lakukan. Pengalaman pertama tertangkap Polisis dan
mudah-mudahan itu menjadi yang terakhir.
Lulus dari
SMP, saya melanjutkan sekolah ke SMAN 1 Pangkajene, tak jauh-jauh dari sekolah
ku yang sebelumnya, letak SMAN 1 Pangkajene hanya berbataasan tembok dengan SMP
ku yang dulu. Dapat melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Pangkajene ini, saya
merasa sangat bangga, seperti sebelumnya, sekolah saya yang sebelumnya, SMAN 1
Pangkajene adalah salah satu SMA terbaik di Pangkep. Masuk menjadi salah satu
murid di SMA ini pun tak mudah, saya harus melewati berbagai tes mulai dari tes
wawancara, mengaji, dan tes tertulis.
Pengalaman
yang tak dapat dilupakan ketika SMA saat saya kelas XI SMA, tepatnya di kelas
XII IPA 1, saat itu setelah ujian untuk semester pertama berakhir sekolah
mengadakan PORSENI (Pekan Olahraga dan Seni) antar kelas, kami semua
sangat-sangat antusias dalam acara ini, kami pun membuat baju untuk acara ini,
dan itu juga sebagai wujud dari kekompakan kami.
Ada banyak
lomba yang diperlombakan dalam PORSENI ini, mulai dari atletik sampai acara
seni, misalnya saja lari, tarik tambang, bola volly, sepak takraw, futsal, baca
puisi, membuat kaligrafi, debat dan masih banyak lagi lomba-lomba lain. Saat
itu saya hanya masuk ke dalam tiga cabang olahraga saja yaitu basket, volly dan
tarik tambang. Saking antusiasnya tak pernah sekalipun teman-teman tak berada
dilapangan ataau ditempat lomba saat kelas kami yang mendapat giliran untuk
bertanding. Di setiap kesempatan kami selalu membuat heboh lapanngan
pertandingan dengan semua yel-yel yang sering membuat pendukung lawan merasa
risih bahkan tak segan-segan melempar tatapan tak suka kepada kami. Tapi, itu
semua tak kami hiraukan, malah kami akan tambah menjadi jika seandainya ada
suporter lawan yang tak suka dengan tingkah kami.
Benar saja,
saat pengumuman siapa yang mendapat juara umum untuk PORSENI kali ini, kelas
sayalah yang memperolehnya, saat nama XI IPA 1 terucap dari bibir kepala
sekolah saat upacara berlangsung, kami semua sontak berteriak dengan kerasnya, sampai-sampai semua senior (anak kelas
tiga), melirik ke arah kami dengan pandangan tidak suka, jengkel, dan bahkan
juga marah. Tapi itu semua tak kami hiraukan, seperti kata pepatah : anjing
menggonggong. Kafilah berlalu. Itulah yang saat itu kami lakukan, saat orang
lain tak senang melihat apa yang kami peroleh, inulah saatnya kami benar-benar
menunjukkan bahwa kamilah anak-anak XI IPA 1 yang terbaik.
Sama
seperti yang lain saya pun bercita-cita melanjutkan sekolah kejenjang yang
lebih tinggi lagi, yaitu melanjutkan kuliah kesalah satu Universitas yang ada
di Makassar. Sebenarnya saya mempunyai impian untuk berkuliah di Universitas
Hasanuddin dan mengambil jurusan ilmu gizi disana, yang nantinya saya bisa
bekerja dibagian kesehatan seperti apa yang saya cita-citakan jauh-jauh hari
sebelumnya, tapi apa yang saya cita-citakan tak sejalan dengan takdir, karena
ketika pengumuman SBNPTN saya tidak lulus di sana, malah saya lulus di
Universitas Negeri Makassar. Sesuai apa yang diinginkan kedua orang tua saya
agar saya menjadi seorang guru. Di sini saya mengambil jurusan Pendidikan
Bahasa Indonesia, Fakultas Bahasa Bahasa dan Sastra.
Pengalaman
yang tak terlupakan saat saya masuk kuliah yaitu saat jurusan saya mengadakan
acara Parade Bahasa Nasional, dan saya juga turut membantu dalam pelaksanaan
acara ini, sebagai LO. Mengapa saya mengatakan bahwa saat itu adalah pengalaman
yang tak terlupakan, karena dalam acara tersebut saya bisa bertemu dengan
orang-orang dari seluruh Indonesia. Karena acara ini merupakan acara Nasional
yang dihadiri oleh mahasiswa-mahasiswi Universitas yang ada di Indonesia.
Misalnya saja dari Lampung, Aceh, Medan, dan masih banyak lagi.
Dalam acara
ini juga kami banyak mengunjungi temapat-tempat wisata, seperti Taman Makam
Pahlawan Sultan Hasanuddin, Benteng Somba Opu, Fort Rotterdam, Monumen Mandala,
dan Pantai Losari. Hal ini membuat saya merasa sangat bahagia karena selain
bisa berkenalan dengan orang-orang dari luar kota, saya juga bisa mengunjungi
tempat-tempat bersejarah yang ada di Makassar yang sebagian dari tempat
tersebut belump pernah saya kunjungi.
Selain itu
kami juga terun ke jalan untuk membagi-bagikan bunga, gantungan kunci dan pink
yang menggambarkan kegiatan yang kami galang. Serta mengkampanyekan pentingnya
bagi kita orang-orang Indonesia untuk melestarikan bahasa Indonesia yang
merupakan ciri khas bangsa kita. Dan hal ini mendapatkan tanggapan yang sangat
positif dari semua orang. Mesipun kami sempat membuat jalan menjadi macet
karena kami menutup sebagian jalan depan Phinisi untuk kampanye ini.
Dan hal
paling penting dalam acara ini, kami juga menggelar Seminar yang juga merupakan
salah satu rangkaian acara dari Parade Bahasa ini. Dan beruntungnya lagi saya
bisa melihat langsung orang yang juga turut berperan penting dalam perkembangan
budaya di Indonesia, yaitu Sujiwo Tejo, yang merupakan budayawan Indonesia.
Meskipun tak sempat berjabat tangan dengannya tapi paling tidak saya sudah bisa
melihat dia dari dekat.. J
Itulah
sedikit dari sekian banyak pengalaman-pengalaman saya, yang dapat saya bagi
kepada teman-teman. Terimakasih sudah mau membaca.. J
Sekian dan Terima Kasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar